Satu pendapat dikemukakan; pondok pesantren memiliki sifat-sifat keduniawian. Pendapat ini tentu tidak salah karena keberadaan dan eksistensi manusia memang berada di dunia dalam rangka menunaikan tugasnya sebagai khalifah fil ardl. Namun, pendapat-pendapat ulama sering kali diterima secara “taken for granted”, diterima apa adanya, tanpa ada telaah ulang. Bagaimana sebaiknya sebuah pendapat menemukan konsteksnya.
Pondok pesantren bukan hanya sekadar lembaga pendidikan yang dipandang tradisional. Lebih dari itu, pondok pesantren memiliki peran dan makna yang luas bagi peradaban. Oleh karena itu, mengulik peran dan makna pondok pesantren lebih jauh mesti dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan agar tetap relevan di setiap zaman.
Terputusnya Jariyah
Kebangkitan pesantren tentu merupakan fenomena yang tidak dapat diabaikan begitu saja pada masa sekarang. Pun, pengertian penting tentang peran dan maknanya. Berhentinya pesantren berarti berhentinya pahala dan kebaikan yang mengalir dari dalamnya. Dari aspek amal jariyah inilah pesantren dan nilai-nilai semestinya tidak bisa dipandang sebelah mata karena diperkuat dalam argumentasi fikih yang bernilai ibadah. Dengan kata lain, memandang remeh pesantren berarti memandang remeh ibadah.
Dengan demikian, pondok pesntren tidak bisa dipandang sebagai megah-megahan sebuah lembaga pendidikan semata. Keberadaan pondok pesantren memiliki nilai ibadah karena terdapat beberapa faktor sebagaimana pewarisan ilmu secara turun temurun, tanah dan benda-benda wakaf lainnya, serta aktivitas-aktivitas yeng berperan lebih luas dalam melestarikan budaya dan kebangkitan peradaban. Dapat dikatakan, pondok pesantren memiliki peran dan makna ibadah yang sangat kompleks dan tidak dapat diabaikan begitu saja.
Regenerasi pondok pesantren beserta nilai-nilai di dalamnya dapat saja putus. Jika putus, maka kesinambungan amal jariyah di dalamnya bisa pula putus. Begitu pula, revitalisasi sistem di dalamnya, baik struktural maupun nonstruktural. Di sini, peran dan makna “investasi amal” dalam pondok pesantren memerlukan beberapa strategi.
Pesantren dan Teknologi Terapan
Menghadapi era penuh dengan kepentingan teknologi, pondok pesantren memerlukan beberapa strategi di antaranya adalah: pertama, strategi pemahaman atau konseptual. Hal paling mendasar berkaitan dengan pondok pesantren adalah pada aspek pemahaman atau konseptual. Sebab, konsep pondok dan pesantren masih belum ditempatkan pada ril ilmiah yang memadai. Sebagai pusat pendidikan, pengajaran, ibadah, dan tentunya memiliki elemen-elemen subkultur terpenting sejak masa lalu.
Kedua, strategi pengembangan, terutama pada aspek rumpun ilmu dan terapannya. Ilmu dan pengetahuan terus mengalami perkembangan dan akan menemukan konstruksinya sendiri. Ilmu dan pengetahuan yang dibiarkan lepas akan begitu saja luber di dalam realitas sehingga tidak ada lagi proses reformulasi. Kemunculan istilah-istilah paradigmatik seperti post-modernism, post-strukturalism, post-traditionalism tidak hanya berhenti pada jargon sebuah pandangan. Melainkan, merupakan sebuah titik tolak dan momentum.
Ketiga, strategi bersifat implementasi atau terapan. Perlu merubah struktur pondasi. Kebanyakan pesantren didirikan oleh tokoh sentral yang memiliki kualifikasi tertentu dalam bidang keilmuan tertentu pula. Misal, Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari memiliki kualifikasi ilmu hadis, KHM Kholil Bangkalan memiliki kualifikasi praktik-praktik tasawuf, KH Munawir Krapyak memiliki kualifikasi ilmu Al Quran. Kualifikasi keilmuan yang dimiliki oleh para kiai pendiri pondok pesantren merupakan pondasi awal sekaligus ciri khas awal berdirinya sebuah pesantren.
Dengan demikian, pondok pesantren tidak semata dipandang sebagai konsep kaku yang berpedoman pada satu pandangan, melainkan lebih jauh pada aspek-aspek yang tak terpikirkan. Dalam menghadapi realitas yang terus berkembang, pondok pesantren perlu menambahkan atau justru merubah struktur pondasi untuk menjadi lebih kokoh sehingga tidak hanya memiliki cakupan bidang-bidang sastra keagamaan semata, melainkan pada aspek-aspek ilmu terapan sebagaimana keilmuan dewasa ini yang lebih menekankan pada aspek teknologi. Pendirian sebuah pondok pesantren pada dasarnya memiliki nilai ibadah.






















