Diiringi rintik hujan di hari minggu sore, akhirnya kami tiba di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Bersama tim akhirnya kami sampai di kediaman tokoh besar Kuningan yang telah puluhan tahun mengantarkan kader-kader terbaik bangsa untuk memimpin beberapa Kabupaten di Jawa Barat.
Beberapa saat setelah kami menunggu, tiba-tiba muncul sosok tegap, tinggi, gagah, tapi sangat santun dan sederhana. Dari pancaran wajah dan senyumnya saat pertama kali menyapa kami, tergambar jelas beliau adalah sosok tokoh yang cukup kharismatik dan amat sangat berpengalaman.
Benar, beliau adalah H Dadang Juhata. Kontraktor sekaligus pengusaha sukses di Kabupaten Kuningan. Gaya bicara yang tegas, wawasan yang luas, strategi politik dan bisnis yang matang adalah hal yang cukup erat dalam pribadi Kang Haji Dadang. Bukan hanya itu, beliau juga merupakan sosok yang sangat kuat dalam memegang prinsip-prinsip agama sekaligus nilai-nilai dalam menjalani kehidupan. Sangat wajar dan pantas jika hari ini beliau menjadi orang besar.
Berangkat dari seorang jurnalis di Media Sinar Pagi, sebuah koran nasional saat itu, beliau memulai karirnya. Setelah mengikuti pelatihan selama 6 bulan di PWI sebagai seorang wartawan dan jurnalis, Dadang muda mulai berkiprah di Kabupaten Indramayu. Ketekunan dan dedikasinya di dunia jurnalistik dengan memegang penuh nilai-nilai kewartawanan akhirnya mengantarkan Dadang muda sebagai wartawan terbaik di kotanya.
“Saya mencari berita bukan mencari rupiah ” adalah prinsip yang dipegang kuat oleh Dadang Muda. Ujian dan aral yang melintang di depan selalu bisa dilewati dengan baik. Iming-iming uang dan jabatan menjadi tidak berarti di depan Dadang muda ini. Walhasil, berkah perjuangan yang gigih, penuh dedikasi, dan memegang teguh prinsip, kita adalah “pejuang dan pemenang” dalam mengantarkan beliau untuk menjadi kontraktor dan pengusaha transportasi besar di Indramayu dan kuningan. Banyak tokoh politik, tokoh agama, dan masyarakat kecil berdatangan ke kediaman beliau untuk mendapatkan arahan dan nasehat H Dadang.
“Seorang Kesatria pantang mundur saat di medan perang, maju, hadapi, dan menangkan pertarungan”; itulah prinsip yang beliau pegang dan ajarkan kepada para sahabatnya. Namun, di balik jiwa kesatri dan mental pemenang ini, beliau ternyata adalah sosok yang relegius dan rendah hati. Kemenangan bukan untuk dibanggakan tapi lebih dari itu “puncak tertinggi dari sebuah perjuangan dan kemenangan adalah syukur kepada Ilahi Sang Pemilik langit dan bumi,” tutur Kang Haji Dadang.























