• Terbaru
  • Populer

Melacak Kesundaan Orang Sunda

4 November 2022

Pesantren dan Kesinambungan Peradaban

21 Desember 2025

Mengapa Pancasila harus Diselamatkan oleh Soeharto?

6 Oktober 2025

Kala Pikiran Menemukan Keabadiannya dalam Goresan Tangan

3 Oktober 2025

Mengenal Guk Ri, Sosok Ketua IKAPETE MUSIRAWAS

1 Agustus 2025

Juru Bicara Alumni Pesantren Tebuireng Lubuklinggau Usulkan Pemekaran PWNU Sumsel Barat

25 Juli 2025

Juru Bicara Alumni Melaporkan Kesiapan Alumni Tebuireng di Lubuklinggau

14 Juli 2025

PCNU Lubuklinggau Siap Gelar Konfercab ke-6, Alumni Tebuireng Mendominasi

13 Juli 2025

AKBP Ardi Kurniawan: Wajah Rembulan di Kota Santri

12 Juli 2025

Siap Datangkan Investor, Mantan Ketua KPUD Mantap Majukan Ekonomi Maslahat NU Lubuklinggau

12 Juli 2025

Tidak Memilih Siapa Pemenang, Lima Alumni Tebuireng Sepakat Pilih yang Siap

11 Juli 2025

Mendapat Restu dari Tebuireng, Pimpinan Ponpes Mafaza Siap Pimpin NU Lubuklinggau

10 Juli 2025

Masih Satu Alumni, 5 Kandidat Siap Bersaing Secara Sehat

9 Juli 2025
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Jumat, 1 Mei 2026
No Result
View All Result
Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • Agama
    • Budaya dan Agama
    • Ekonomi
    • Industri dan Perdagangan
    • Pendidikan dan Wisata
    • Politik dan Hukum
    • Sejarah dan Sastra
    • Sosial dan Olahraga
    • Teknologi dan Lingkungan
    • UMKM
    • Wisata
  • Khusus
    • Berita Khusus
    • Tafsir Genre Buya Syakur
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • Agama
    • Budaya dan Agama
    • Ekonomi
    • Industri dan Perdagangan
    • Pendidikan dan Wisata
    • Politik dan Hukum
    • Sejarah dan Sastra
    • Sosial dan Olahraga
    • Teknologi dan Lingkungan
    • UMKM
    • Wisata
  • Khusus
    • Berita Khusus
    • Tafsir Genre Buya Syakur
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Net26.id
Beranda Berita Umum

Melacak Kesundaan Orang Sunda

Net26 Ditulis oleh Net26
4 November 2022
dalam Berita Umum
A A
171
VIEWS

Pengertian budaya Pasundaan atau Pasundan telah diberikan oleh kalangan peneliti arkeologi dan sejarah belakangan. Sering pula, sebutan nama nama kerajaan tertentu yang tidak punya nama, lalu diciptakan namanya sehingga orang orang akan dibingungkan dengan istilah kata Sunda, Priangan, atau Pajajaran. Kecuali, nama nama yang memang sudah tertulis di prasasti prasasti seperti Raka i Pikatan yang berarti Raja di (daerah) Pikatan. Raka i Watuhumalang atau Raja di (daerah) Watuhumalang, dan seterusnya. Khusus melacak kesundaan orang Sunda, garis budaya akan ditarik kepada istilah Tatar Sunda yang memiliki padanan kata Bumi Mataram, Bumi Medang, Bumi Galuh, dan seterusnya, yang membuat satu kesatuan entitas budaya. Hal ini dapat dilihat pada dominasi budaya Mataram misalnya yang membuat strata sosial melalui bahasa menjadi bertingkat: ngoko, madya, dan hinggil. Dengan kata lain, wilayah wilayah yang terpengaruh oleh budaya Mataram ini akan menggunakan bahasa bahasa bertingkat.

Entitas Budaya Kasundaan

Tidak semua wilayah di Jawa bagian barat mengadopsi budaya Sunda seperti di Indramayu dan Cirebon, begitu pula di Banten. Karena, tingkat akulturasi dan asimilasinya berbeda. Guna melacak kesundaan orang Sunda dapat dibandingkan dengan entitas yang berlaku di Jawa Timur pada masa Majapahit, ketika Majapahit Barat (Brang Kulon, Kertabhumi) yang berlokasi di Mojokerto terpisah dari Majapahit Timur (Brang Wetan, Wirabhumi) yang berlokasi di Lumajang. Terdapat dua entitas budaya yang saling berebut pengaruh. Maka, dapat disebut pula “Sunda-Pajajaran” atau Parahiangan Kulon yang berlokasi di Bogor berebut pengaruh dengan “Sunda-Galuh” atau Parahiangan Timur yang berlokasi di Garut.

ArtikelLainnya

Juru Bicara Alumni Pesantren Tebuireng Lubuklinggau Usulkan Pemekaran PWNU Sumsel Barat

25 Juli 2025
147

Juru Bicara Alumni Melaporkan Kesiapan Alumni Tebuireng di Lubuklinggau

14 Juli 2025
169

PCNU Lubuklinggau Siap Gelar Konfercab ke-6, Alumni Tebuireng Mendominasi

13 Juli 2025
171

AKBP Ardi Kurniawan: Wajah Rembulan di Kota Santri

12 Juli 2025
184

Dengan demikian, kata Sunda lebih tepat disematkan kepada sebuah entitas kebudayaan yang hidup di wilayah bagian barat, khususnya wilayah Bogor dan Cianjur. Meskipun, belakangan, disebut istilah Tatar Sunda untuk membedakan dengan istilah Bumi Jawa. Namun, tetap memiliki kerancuan ketika dihadapkan pada istilah Bumi Parahiangan atau Bumi Pajajaran. Karena, membutuhkan fase fase sejarah tertentu ketika budaya itu menjadi dominan.

Oleh karena itu, kemunculan budaya Sunda dapat ditentukan dalam kurun waktu tertentu di dalam sejarah, karena disebabkan pertemuan budaya manusia Jawa dan Melayu, khususnya Sumatera bagian selatan. Tokoh yang hadir sebagai manusia Sunda adalah orang Melayu yang mampu menghadirkan budaya Sumatera bagian selatan dan Jawa yang masih berbudaya Pangguyangan atau Buni. Tokoh tersebut adalah Tarusbawa yang bergelar Sri Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manumanggalajaya Sunda Sembawa. Hal ini akan berbeda dengan budaya Pajajaran dengan entitas berbeda apalagi budaya Tarumanegara yang muncul jauh sebelum ada budaya Sunda.

Sumber: https://id.wikipedia.org/

Ditemukan budaya megalitikum di bagian barat Pulau Jawa ribuan tahun lalu seperti budaya Buni di Lebak (Banten), budaya Pagguyangan di Sukabumi, serta budaya Cipari di Kuningan telah menandakan budaya manusia Jawa sudah maju dari segi pertanian, berburu, bahkan industri batik. Di Sumatera bagian selatan, masyarakat Bunian masih dianggap ada meskipun diselimuti misteri.

Prasasti batu bertuliskan Purnawarman di Pasir Muara dan Pasir Koleangkak yang tidak menyebutkan nama ibukota kerajaan Tarumanegara telah menandakan penggunaan budaya Hyang sebagai sebuah kabuyutan. Terkadang, hutan, sungai, gunung, dan laut adalah “istana” bagi orang orang zaman dahulu. Mereka tidak mementingkan bangunan yang kokoh untuk melindungi diri dari serangan musuh, tapi cukup dengan kekuatan alam.

Gambar buah Nila (Tarum) sebagai pewarna batik alami. Sumber: https://www.satuharapan.com/

Sunda Timur dan Sunda Barat

Terdapat kata kata yang disepakati oleh masyarakat Jawa pada umumnya, mulai dari timur hingga barat. Kata kata tersebut misalnya Hyang, (H)aji, dan Buyut. Khusus kata Parahiangan diambil dari kata Hyang tersebut, para-hyang-an. Dengan kata lain, budaya Hyang merupakan gejala umum yang ada di pulau Jawa. Bahkan, menjadi identitas budaya yang pertama dikenal di Nusantara sebelum muncul budaya budaya yang datang kemudian seperti (H)indu(s), Tiongkok, Persia, Arab, Afrika, dan Eropa. Budaya Hyang ini terejawantah ke dalam bahasa sehari hari seperti moyang (ma-Hyang), sembahyang (sembah-Hyang), tiang (Ti-Hyang), atau Dieng (Di-Hyang). Hyang adalah budaya umum masyarakat di Nusantara khususnya Jawa. Kata puyang (pu-Hyang) masih digunakan di Sumatera Selatan untuk menyebut nenek moyang.

Sebagai perbandingan pula, Menurut Eugenius Marius Uhlenbeck dalam bukunya A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura (1964), rumpun bahasa Banyumasan yang eksis saat ini lebih tua dibandingkan dari subbahasa yang digunakan oleh masyarakat di pulau Jawa pada umumnya.

Kabuyutan Galuh Purba dipercaya memiliki cakupan wilayah budaya yang luas (meliputi Jawa Tengah dan Jawa Barat) diantaranya adalah Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Bumiayu, Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga, Kebumen, Kedu, Kulonprogo, dan Purwodadi.

Beberapa tempat yang menggunakan nama Galuh diantaranya adalah Rajagaluh (Majalengka), Galuh (Purbalingga), Galuh Timur (Bumiayu), Sirah Galuh (Cilacap), Begaluh (Wonosobo), Samigaluh (Kulonprogo), Sigaluh (Purwodadi), serta Hujunggaluh (Surabaya). Bahkan, terdapat pula nama Watugaluh (Jombang) yang menjadi pusat Kabuyutan Pu Sindok dari Wangsa Isyana, bagian dari subbudaya Kalingga (Medang Kamulan).

Keberadaan Kabuyutan Galuh Purba di kaki gunung Slamet sangat sedikit dijumpai bukti bukti sejarahnya, melainkan hanya diikat oleh satu kebudayaan bahasa Ngapak. Kabuyutan Galuh Purba tersebut ditengara telah melahirkan dua budaya yang berbeda: Kalingga (Medang Kemulan) dan Kawali (Galuh).

Kabuyutan Galuh Purba terus  bergeser dan berasimilasi dengan kebudayan yang baru datang di lain tempat. Pada prasasti Bogor disebutkan: Kabuyutan Galuh Purba bergeser ke Kawali, Garut, dan sebagian bergeser ke Kalingga. Dengan kedatangan budaya (H)indu(s), Kabuyutan Galuh Kawali membentuk budaya Kesundaan dengan mendirikan Candi Cangkuang sebagai simbolnya, sementara Kalingga mendirikan cecandian seperti Dieng, Borobudur, Prambanan, Candi Lor, maupun situs Srigading di Malang yang baru ditemukan.

Dengan demikian, melacak kesundaan orang Sunda bisa dikatakan tidak lebih tua daripada budaya Hyang. Terutama, tidak sedikit prasasti prasasti yang menggunakan bahasa Melayu Kuno yang menyertai. Budaya Sunda adalah modern seperti Borobudur dan Prambanan pada masanya. Masing masing memiliki waktu dan tempatnya.

Tag/kata kunci: melacak kesundaan orang Sunda
Artikel sebelumnya

Islam Mengajarkan Budaya Berpakaian dan Emas Kawin

Artikel berikutnya

Sastra dan Pusat Peradaban di Nusantara

Net26

Net26

Artikel Lainnya

Siap Datangkan Investor, Mantan Ketua KPUD Mantap Majukan Ekonomi Maslahat NU Lubuklinggau

12 Juli 2025
158

Misi perekonomian di masa sulit adalah solusi yang hendak dikembangkan oleh Efriadi Suhendri maju pada Konfercab PCNU Lubuklinggau ke-6. Mantan Ketua...

Selanjutnya

Tidak Memilih Siapa Pemenang, Lima Alumni Tebuireng Sepakat Pilih yang Siap

11 Juli 2025
152

Dalam menghadapi resesi global akibat perang yang hampir tak berkesudahan, beberapa kesiapan diantaranya ketahanan pangan adalah pilihan program yang menjadi prioritas...

Selanjutnya

Mendapat Restu dari Tebuireng, Pimpinan Ponpes Mafaza Siap Pimpin NU Lubuklinggau

10 Juli 2025
166

Inginkan Hadratussyekh Selalu Hadir Bagi kalangan santri, kehadiran seorang kiai adalah suatu kebanggaan dan kemuliaan tersendiri. Baik di kala masih masih...

Selanjutnya

Masih Satu Alumni, 5 Kandidat Siap Bersaing Secara Sehat

9 Juli 2025
220

Dengan mengusung tagliine “Bangga Menjadi Santri Hadratussyekh”, lima tokoh alumni Pesantren Tebuireng sepakat dan siap maju bersama dalam pemilihan Ketua Tanfidziyah...

Selanjutnya

Jelajahi Alam untuk Kembangkan Kreasi

13 Juni 2025
147

Berbekal dari semangat dan hobi menjelajahi alam, tak dinyana menjadi kegiatan profesi yang menghasilkan. Apri Pujianto menjadi salah satu fotografer yang...

Selanjutnya

KHM Yusuf Hasyim: Pahlawan Pembaharu Pendidikan Pesantren

30 Maret 2025
144

Pada umumnya, pendidikan pesantren dikategorikan ke dalam dua atau tiga macam. Pertama, pesantren tradisional yang sering diidentikkan dengan kitab kuning atau...

Selanjutnya

Dunia Itu Mudah Jangan Dipersulit

10 Februari 2025
164

Beragam kenikmatan yang diberikan oleh Allah Taala jarang diketahui kita orang muslim. Bahkan, kenikmatan di balik musibah tidak pernah disadari. Dengan...

Selanjutnya

H Dadang Juhata Kesatria dari Kuningan Jawa Barat

10 Februari 2025
197

Diiringi rintik hujan di hari minggu sore, akhirnya kami tiba di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Bersama tim akhirnya kami sampai di kediaman...

Selanjutnya
Artikel berikutnya

Sastra dan Pusat Peradaban di Nusantara

Bukit Sulap sebagai Istana Masa Lalu Lubuklinggau

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Inline Feedbacks
View all comments
Net26.id

Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • Agama
    • Budaya dan Agama
    • Ekonomi
    • Industri dan Perdagangan
    • Pendidikan dan Wisata
    • Politik dan Hukum
    • Sejarah dan Sastra
    • Sosial dan Olahraga
    • Teknologi dan Lingkungan
    • UMKM
    • Wisata
  • Khusus
    • Berita Khusus
    • Tafsir Genre Buya Syakur
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply