Ungkapan itu terngiang dan akan selalu tersimpan di hati. Satu ungkapan untuk menyadarkan bagi saudara-saudaranya sepondok pesantren. Namanya Muhson Al-Hamil, tinggal di Desa Sidowarek, selatan Tebuireng yang terkenal. Tapi, di kalangan saudara-saudaranya, ia lebih akrab dipanggil Cak Son. Sehari-hari, pekerjaannya ngopeni Al-Quran. Bahasa yang tepat untuk disematkan padanya.
Meskipun pernah jatuh sakit dan mengakibatkan usaha dagangnya di pasar sampai tutup, Cak Son tetap berikhtiar untuk selalu menjaga Al-Quran yang dengan telah susah payah dihafalnya sejak usia muda. Jadi, wajar, jika ia berkata demikian, “Awakmu hafidh tenanan opo setengah hafidh?”
Kini, Cak Son menghabiskan waktunya untuk mengajar di madrasah sebagaimana pada umumnya santri-santri Pesantren Tebuireng. Tidak lupa untuk “mulang” walau hanya dalam majelis kecil.
Di depan rumah Cak Son, terdapat sebuah mushalla,peninggalan orangtuanya. Di mushalla yang sudah tampak kuno itu, Cak Son menjadi kiai di kampung halamannya.
Dari segi keilmuan, Cak Son lumayan cakap. Ia tamat Aliyah di Madrasatul Quran (MQ Tebuireng). Untuk ukuran zaman itu, orang yang mampu menyelesaikan pendidikannya hingga level Aliyah di MQ Tebuireng sudah terbilang hebat. Karena, di samping masih menggunakan kurikulum yang dirancang oleh Gus Dur (K.H. Abdurrahman Wahid), Presiden RI ke-4, program madrasah di MQ Tebuireng benar-benar diperuntukkan bagi orang yang tidak saja hafal Al-Quran saja. Namun lebih dari itu, untuk mengerti makna-makna yang tersirat dan tersurat di dalam Al-Quran, baik sebatas “lafzhi” maupun dalam arti observasi sesungguhnya. Dari keluasan program “makna” di MQ Tebuireng tersebut, tidak sedikit santri-santri alumni yang tidak mengenal ilmu perbintangan sama sekali, malah terlibat aktif di Observatorium Boscha, Bandung. Demikian, kehebatan santri-santri MQ Tebuireng yang hanya ngopeni Al-Quran sejak di pondok pesantren, tiba-tiba mampu bertugas di lembaga tersebut.
Demikian pula dengan Cak Son. Di sela-sela mengajar di madrasah, ia masih tetap menerima undangan untuk bergiat di hataman Al-Quran dari kampung ke kampung. Cak Son memiliki tim buser (buru sergap) hataman. Kapanpun dan dimanapun demi Al-Quran.
Cak Son masih memiliki cita-cita untuk menghidupkan rumah dan mushallanya yang sederhana dengan pancaran dan sinaran Al-Quran. Cak Son ingin mendirikan pesantren bila dititipi santri. Ia ingin santri-santrinya benar-benar hafidh atau hamil Al-Quran, tidak seperuh hafidh.























