• Terbaru
  • Populer

Konsistensi KH Husein Muhammad dalam Menghidupkan Tradisi

27 April 2022

Pesantren dan Kesinambungan Peradaban

21 Desember 2025

Mengapa Pancasila harus Diselamatkan oleh Soeharto?

6 Oktober 2025

Kala Pikiran Menemukan Keabadiannya dalam Goresan Tangan

3 Oktober 2025

Mengenal Guk Ri, Sosok Ketua IKAPETE MUSIRAWAS

1 Agustus 2025

Juru Bicara Alumni Pesantren Tebuireng Lubuklinggau Usulkan Pemekaran PWNU Sumsel Barat

25 Juli 2025

Juru Bicara Alumni Melaporkan Kesiapan Alumni Tebuireng di Lubuklinggau

14 Juli 2025

PCNU Lubuklinggau Siap Gelar Konfercab ke-6, Alumni Tebuireng Mendominasi

13 Juli 2025

AKBP Ardi Kurniawan: Wajah Rembulan di Kota Santri

12 Juli 2025

Siap Datangkan Investor, Mantan Ketua KPUD Mantap Majukan Ekonomi Maslahat NU Lubuklinggau

12 Juli 2025

Tidak Memilih Siapa Pemenang, Lima Alumni Tebuireng Sepakat Pilih yang Siap

11 Juli 2025

Mendapat Restu dari Tebuireng, Pimpinan Ponpes Mafaza Siap Pimpin NU Lubuklinggau

10 Juli 2025

Masih Satu Alumni, 5 Kandidat Siap Bersaing Secara Sehat

9 Juli 2025
  • Susunan Redaksi
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
Jumat, 24 April 2026
No Result
View All Result
Net26.id
  • Login
  • Register
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • Agama
    • Budaya dan Agama
    • Ekonomi
    • Industri dan Perdagangan
    • Pendidikan dan Wisata
    • Politik dan Hukum
    • Sejarah dan Sastra
    • Sosial dan Olahraga
    • Teknologi dan Lingkungan
    • UMKM
    • Wisata
  • Khusus
    • Berita Khusus
    • Tafsir Genre Buya Syakur
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • Agama
    • Budaya dan Agama
    • Ekonomi
    • Industri dan Perdagangan
    • Pendidikan dan Wisata
    • Politik dan Hukum
    • Sejarah dan Sastra
    • Sosial dan Olahraga
    • Teknologi dan Lingkungan
    • UMKM
    • Wisata
  • Khusus
    • Berita Khusus
    • Tafsir Genre Buya Syakur
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi
No Result
View All Result
Net26.id
Beranda Budaya dan Agama

Konsistensi KH Husein Muhammad dalam Menghidupkan Tradisi

Muhammad Sakdillah Ditulis oleh Muhammad Sakdillah
27 April 2022
dalam Budaya dan Agama
A A
234
VIEWS

Cirebon-Net26.id Jika dunia Islam mengenal baik Imam Al Ghazali (wafat 1111 Masehi), maka kini dapat mempelajari pemikiran-pemikiran baik dari KH Husein Muhammad. Tokoh intelektual muslim yang langka di era kekinian, berkat tulisan-tulisannya yang coba mendobrak kejumudan secara sadar dan tidak sedang melanda umat Islam dunia.

Memang, tak dapat dipungkiri, dunia Islam sedang dirundung berbagai persoalan-persoalan geopolitik yang tidak berkesudahan sehingga belum muncul satu mercusuar yang dapat menjadi kompas di tengah-tengah kegalauan antara mistik dan rasionalitas keilmuan.

ArtikelLainnya

Pada Siklus Pemberdayaan yang Semestinya

31 Juli 2023
156

Namun Sayangnya, Budaya Bukan Sebatas Pakaian Tradisional

31 Juli 2023
156

Kebahagiaan Harus Berjalan Wajar

30 Juli 2023
146

Warisan Keteladanan dari Masa Mpu Sindok

13 Juli 2023
168

Sahabat Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) ini memang memiliki dasar-dasar epistem (makrifat) yang kuat, baik dari sumber-sumber otoritatif tradisional (sering disebut turats) maupun kontemporer. Pilihan sikap intelektualnya yang cenderung terbuka sering dipandang “liberal”. Maka, tidak jarang, jika kemudian dirinya sering mendapat tantangan dari kalangan-kalangan tekstualis seperti yang sering disinggungnya. Karena, stigma liberal demikian sehingga gagasan-gagasan orisinalnya mudah diabaikan sebelum dibedah.

Sadar Tradisi

Membaca secara sepintas apalagi sepenggal-sepenggal tidak cukup merepresentasikan pemikiran utuh Abah/Buya Husein. Dan, kalangan oportunis-pragmatis atau istilah kerennya utilitarianis sering tidak sejalan dengan pemikiran Abah Husein ini. Mereka berpikir Abah Husein liberal, jadi tidak perlu dibaca. Padahal, banyak temuan-temuan jika pembacaan literal sekaligus teoretis cenderung abai pada tradisi dan keluar dari pakem-pakemnya. Di sini, pengabaian ini dapat dipandang sebagai sikap kemalasan berpikiran dan membaca.

Abah Husein dalam akun “Facebook” (Selasa, 26/4/2022) sadar jika pesantren misalnya memiliki potensi dan simpanan (khazanah) kekayaan, baik materi maupun immateri. Dari segi materi, kekayaan tersebut bisa berupa makalah-makalah di dalam kitab-kitab kuning (besar dan kecil), pribadi-pribadi muslim Indonesia yang tergolong baik kualitasnya, serta dunia Islam (dari Libya, Mesir, Arab, Iran, Afghanistan, dan tentunya Indonesia) adalah pemilik sumberdaya alam. Dari segi immateri, umat Islam memiliki khazanah tradisi tasawuf yang kaya. Kekayaan yang tidak dimiliki oleh suku-bangsa lain karena berorientasi pada materi belaka.

Dengan demikian, sebenarnya tidak ada alasan bagi umat Islam untuk dikatakan terbelakang. Justeru, keterbelakangan tersebut lebih bersifat mental yang dibuat-buat sendiri karena tidak berani keluar dari kurungan-kurungan dogmatis.

Sadar tradisi ini yang selalu mengingatkan umat Islam kepada Imam Al Ghazali. Sosok yang dikenal di pesantren sebagai pelopor mistifikasi. Akal yang seharusnya tercerahkan melalui “Rausyan Al FIkr”, yang tersinari oleh “Cahaya Tuhan”, justeru dipandang perlu dibunuh demi kejayaan mistik.

Ihya Ulum Al Din perlu dimaknai dengan hidupnya akal. Akal sebagaimana kalangan tasawuf membagi ke dalam beberapa macam seperti akal bashirah, akal fuadi, dan seterusnya. Jadi, bukan mistifikasi!

Aktualisasi Metode

Memandang kritik sebagai metode, bukan dalam arti “mencari-cari kesalahan” atau “mencaci maki”. Kritik harus dikembalikan kepada makna awal “untuk menimbang”. Kritik juga bisa dalam bentuk apresiasi, menghadirkan diri dan yang lain (the other) pada porsinya. Maka, “self criticism” bukan sesuatu yang harus dihindari dalam menuju kesadaran (consciousness).

Bagi Abah Husein, “Keadaan ini seharusnya menyadarkan kaum muslimin untuk menelaah kembali tradisi pemikiran mereka secara kritis. Mereka harus membangun kembali konstruksi keilmuan dan metodologinya sebagaimana yang pernah dimiliki. Ilmu-ilmu Islam harus dikembangkan untuk dapat memasuki wacana-wacana kontemporer dengan menggunakan metodologi yang relatif lebih sesuai dengan perkembangan modernitas dan intelektualitas manusia modern.” Sehingga menghadirkan kembali materi-materi yang ada dan tersimpan memerlukan cara saji yang baru, tidak monoton sebagaimana terjadi. Karena metode-metode lama bisa saja masih relevan, namun dalam kapasitas yang berbeda atau jauh lebih besar harus digunakan dengan yang baru. Ibarat menggali sebuah parit, bisa saja dilakukan dengan menggunakan cangkul. Tapi, untuk parit lebih besar, tidak hanya cangkul yang dibutuhkan, melainkan juga eskavator. “Beberapa metode yang pernah digunakan kaum muslimin awal sudah waktunya untuk digali dan diaktualisasikan kembali.”

Pengertian metode ini yang menyebabkan umat Islam pada umumnya enggan membuat inovasi-inovasi sendiri. Karena, pandangan dogmatis sudah memberi label terlebih dahulu dan mengharamkan akal misalnya. Padahal, dalam eksplorasi dan inovasi diperlukan keberanian-keberanian, tidak memandang status dengan label-label yang membuat susah bergerak, sebagaimana pembagian ilmu-ilmu yang tidak relevan dan kesalahan paham akibat sekularisme. “Tetapi ada beberapa hal yang perlu dikemukakan terlebih dahului. Pertama adalah cara pandangan dikotomistik antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum harus sudah diakhiri, dengan menyatakan bahwa kedua jenis ilmu ini memiliki signifikansi yang sama dan keutamaan yang setara, sepanjang semuanya digunakan bagi kepentingan kemanusiaan. Kedua, pandangan-pandangan yang selama ini berkembang bahwa “ijtihad” telah tertutup dan tidak mungkin ada lagi orang yang mampu menandingi kwalifikasi intelektual generas awal, juga perlu ditinjau kembali. Untuk hal ini tentu saja dituntut kesediaan dan keberanian kaum muslimin untuk melakukan kerja-kerja intelektual yang mampu menerobos kebuntuan-kebuntuan dinamika kaum muslimin.”

Dalam hal kritik, kehadiran sebuah karya adalah kritik. Kehadiran kitab suci Al Quran adalah kritik terhadap realitas, terhadap sejarah, terhadap hukum, maupun terhadap alam semesta yang memiliki makna universal. Berlaku umum, tidak saja bagi kalangan umat Islam saja.

“Al Suyuti sesungguhnya telah melancarkan kritik cukup pedas terhadap konservatisme intelektual ketika ia menulis judul bukunya : “al Radd ‘ala man akhlada ila al ardh wa jahila anna al Ijtihad fi kulli ‘ashrin fardhun”(kritik atas konservatisme dan terhadap mereka yang menolak ijtihad sebagai keharusan agama sepanjang masa). Ketiga bahwa produk-produk penemuan ilmiah berikut metodologinya pada dasarnya bukanlah sesuatu yang eksklusif. Penemuan ilmu pengetahuan pada dasarnya berlaku bagi siapa saja dan di mana saja. Setiap penemuan ilmiah oleh siapapun, terlepas dari latar belakangnya, sepanjang dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia, harus dapat diapresisasi oleh kaum muslimin dan dipandang sebagai produk-produk yang Islami.”

Dengan demikian, kritik dapat bertujuan mengembangkan ilmu pengetahuan, bukan dalam pengertian pembunuhan karakter terhadap seseorang.

Cirebon, 27 April 2022.

Editor: Bagus Dilla
Tag/kata kunci: ConsciousnessDogmatisKH. Husein MuhammadKritik
Artikel sebelumnya

Peta Geopolitik Hadarat Al Islam (Bagian 11)

Artikel berikutnya

Peta Geopolitik Hadarat Al Islam (Bagian 12)

Muhammad Sakdillah

Muhammad Sakdillah

A writer and culture activities.

Artikel Lainnya

Harlah Dan Bedah Buku Samber Nyowo Di Rumah Masa Kecil Presiden Sukarno

Buku Samber Nyowo
6 April 2023
217

Bedah buku Samber Nyowo akan digelar pada malam tasyakuran hari lahir (harlah) Pangeran Samber Nyowo ke-298 di Situs Ndalem Pojok rumah...

Selanjutnya

Keprihatinan Buya Husein Muhammad pada Aspek Budaya

9 Januari 2023
192

Sedikit tapi mengena. Buya Husein Muhammad mengemukakan perlunya kerja kerja penerjemahan. Karena, dengan kerja kerja penerjemahan tersebut pengetahuan dan budaya dapat...

Selanjutnya

Mazhab Syafi’i: Dari Mekah, Baghdad, hingga ke Mesir

27 Desember 2022
202

Tradisi referal telah menjadi salah satu ciri suku-bangsa Arab karena memiliki ingatan yang kuat. Mereka bisa hafal silsilah nenek moyang hingga...

Selanjutnya

Mazhab Maliki: Dari Madinah, Damaskus, hingga ke Cordova

26 Desember 2022
181

Dokumentasi hadis Rasulullah Saw bermula di Madinah ketika kitab Al Muwattha lahir dari tangan Imam Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki. Sebagian...

Selanjutnya

Memaknai Desember Bulan Gus Dur

6 Desember 2022
207

Hak hak adat (ulayat) memiliki aturan tersendiri di dalam khazanah dan referensi hukum di Indonesia. Hukum Adat di samping Hukum Islam...

Selanjutnya

Terkuak, Ini Jawaban Teka Teki dan Asal Usul Dapunta Hyang

Foto koleksi pribadi Andri Novanto Musirawas
12 November 2022
469

Satu suku-bangsa sudah dianggap maju apabila memiliki aksara sendiri. Tidak semua suku-bangsa yang ada di Nusantara memiliki aksara sendiri. Meskipun, memiliki...

Selanjutnya

Memanusiakan Jejak Jejak Sejarah Sriwijaya

11 November 2022
174

Menarik jejak petualang Manusia Sumatera coba dianalisis dengan memanusiakan jejak jejak sejarah Sriwijaya dalam tulisan ini. Para sejarawan sering menulis menurut...

Selanjutnya

Mengenal Kata Santri di Indonesia

21 Oktober 2022
157

Setiap kata pada dasarnya tidak bisa berdiri sendiri yang tiba tiba turun dari langit. Setiap kata memiliki ruang realitas sejarahnya sendiri,...

Selanjutnya
Artikel berikutnya

Peta Geopolitik Hadarat Al Islam (Bagian 12)

Peta Geopolitik Hadarat Al Islam (Bagian 13)

Berlangganan
Connect with
Login
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
Notifikasi dari
guest
Connect with
I allow to create an account
When you login first time using a Social Login button, we collect your account public profile information shared by Social Login provider, based on your privacy settings. We also get your email address to automatically create an account for you in our website. Once your account is created, you'll be logged-in to this account.
DisagreeAgree
guest
0 Comments
terlama
terbaru paling banyak dipilih
Inline Feedbacks
View all comments
Net26.id

Kabar-kabar dari dan untuk anak negeri yang merasa menjadi anak Ibu Pertiwi. Kisah-kisah ringan bermutu dan artikel-artikel sarat manfaat.

No Result
View All Result

Link Situs

  • Ini Kami
  • Susunan Redaksi
  • Reporter
  • Lembar Penulis
  • Mengenai Net26.id
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Facebook
  • Email
  • id ID
    • id ID
    • en EN

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Artikel
    • Agama
    • Budaya dan Agama
    • Ekonomi
    • Industri dan Perdagangan
    • Pendidikan dan Wisata
    • Politik dan Hukum
    • Sejarah dan Sastra
    • Sosial dan Olahraga
    • Teknologi dan Lingkungan
    • UMKM
    • Wisata
  • Khusus
    • Berita Khusus
    • Tafsir Genre Buya Syakur
  • Redaksi
    • Penulis
    • Tim Editor
  • Reporter
    • Wartawan
    • Tim Editor
  • Responden
    • Tim Editor
  • Kami
    • Mengenai Net26.id
    • Susunan Redaksi

Copyright © 2022 Net26.id - Kabar Berita Anak Negeri

Sugeng rawuh 🙏😊

Masukkan username dan password

Lupa password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Kembalikan Password

Masukkan username atau alamat email untuk mereset password.

Log In
wpDiscuz
0
0
Yuk diskusikan artikel ini!x
()
x
| Reply